Welcome to my blog

Selamat datang di blog saya. Di sini kita bisa membahas masalah-masalah hukum dan sosial, juga saling berbagi tentang apa saja yang bisa melejitkan semangat belajar. Ok

Minggu, 19 November 2017

Tips Membuat Anak Gila Membaca


Sumber gambar: pixabay.com
Membaca merupakan salah satu kemampuan yang selayaknya dimiliki oleh anak-anak usia sekolah. Kemendikbud mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah sebagai salah satu upaya meningkatkan minat baca pada masyarakat Indonesia khususnya anak usia sekolah. Kegiatan asyik membaca bagi anak mampu mengurangi ketergantungannya pada televisi dan ponsel pintar yang sangat menjamur penggunaannya sekarang ini.
Anak yang hobi membaca dapat dengan mudah memahami pelajarannya di sekolah, menyelesaikan PR-nya, juga menjadikannya anak yang cerdas dan berwawasan luas. Tentu saja orangtua bahagia melihat buah hatinya rajin membaca apalagi sampai gila pada buku. Gila di sini bermakna positif yaitu bersemangat sekali dalam membaca.
Berdasarkan pengalaman pribadi penulis memiliki anak yang "gila" membaca, ada lima tips yang bisa dilakukan ayah dan ibu. Tips-tipsnya antara lain:
  1. Tunjukkan keteladanan pada anak bahwa kedua orangtuanya pun mencintai buku. Jika sedang di rumah, berusahalah membiasakan diri melakukan aktivitas membaca. Ayah membolak-balik koran dan ibu membuka-buka resep masakan. Meski bukan buku yang bertema berat, anak pasti akan memerhatikan kesibukan orangtuanya. Anak adalah peniru ulung ayah dan bundanya.
  2. Ajaklah buah hati ke toko buku. Sebaiknya orangtua memiliki anggaran khusus untuk membeli buku. Bersama-sama berburu buku dengan anak di akhir pekan memberikan pengalaman yang seru bagi anak dan membuatnya ketagihan!
  3. Biasakan meletakkan buku dimana-mana. Taruh buku di dekat televisi, di ruang makan, di kamar tidur, bahkan di dasbor mobil. Contohkan dengan membaca sedikit-sedikit jika ada waktu. Akhirnya anak Anda akan "terkepung" oleh buku dan menganggap aktivitas membaca adalah kegiatan yang sama pentingnya seperti makan dan minum.
  4. Diskusikan isi buku anak bersama-sama. Anak akan merasa bukunya berharga bila orangtua mau ikut membaca dan membicarakannya. Akan jadi kegiatan yang menyenangkannya kalau ayah ibu bersedia bergabung bersamanya.
  5. Hadiahkan buku atas semua prestasinya. Memberi kado tak mesti di hari ulang tahunnya, namun bisa juga di setiap pencapaian prestasinya. Anda dapat mengungkapkan kebanggaan Anda padanya dengan menghadiahkannya buku kesukaannya.
Demikian tips membuat anak Anda gila membaca buku. Anda bisa mengombinasikannya dengan gaya pengasuhan Anda sendiri. Semoga dapat menginspirasi dan membuat kita semakin mencintai kegiatan literasi khususnya membaca.

Sabtu, 18 November 2017

Kado Paling Mengena Di Hati

Foto saya dan almarhumah ibunda, 2002
Kamis lalu saya ke rumah orangtua di kawasan Medan bagian utara. Tujuannya ingin pijat dengan tukang urut tetangga beda blok. Ibu berusia lima puluh tahunan yang biasa kami sapa, Mak Arif. Perawakannya kecil tapi kalau sudah memijat, masyaAllah semua capek-capek sepertinya langsung lenyap, berganti dengan tubuh yang segar, seakan terisi energi baru.

Bukan tidak ada tukang kusuk (istilah orang Medan menyebut pijat atau urut), di sekitar rumah saya. Tapi yang seperti Mak Arif ini jarang sekali dijumpai. 'Ngusuk' itu tak hanya sejam atau lebih. Tetapi tiga jam! Seringkali saya alami, tukang kusuk selain dia seolah ingin selalu cepat selesai. Kegiatan mengusuk akhirnya sekadar pegang sana sentuh sini, tidak bisa dirasakan penjiwaannya. Jiah, ternyata memijat mesti pakai penjiwaan segala ya.

Akhirnya setelah bayi saya pun selesai dipijat, kami permisi pulang pada adik saya yang tinggal di rumah. Dengan santainya ia menyodorkan sebuah bingkai foto berplastik ke saya. "Apa ini?", sambil menerima kantong kresek transparan itu saya bertanya. "Lihat sajalah.", jawabnya membuat rasa ingin tahu saya mendadak naik maksimal. Dan taraaaa! Dua lembar foto yang saya cari-cari selama ini sampai membongkar lemari!

Foto saya dan almarhumah ibunda di tahun 2002. Waktu itu ibu mengunjungi saya yang sedang kuliah di Yogyakarta. Mengenang waktu kami di Medan dahulu sering jalan bersama cari bahan baju ke Pajak Ikan Lama, ke Puspa (Pusat Pasar/Sentral) atau sekadar ke pasar tradisional berdua, saya pun mengajak ibu ke Mal Malioboro. Waktu itu jam operasional mal baru saja buka satu atau dua jam. Masih sepi pengunjung.

Melihat ada 'photo box', iseng saya mengajak ibu foto bareng. Saya tahu ibu itu orangnya suka mencoba hal baru. Dengan senang hati beliau ikut berfoto. Hasilnya bisa dilihat di gambar yang saya lampirkan ini. Ah, adik saya memang kreatif. Caranya mengembalikan foto yang sudah lama membuat saya penasaran terselipnya dimana, unik sekali. Kalau foto digitalnya sih ada di Facebook ini juga. Tapi rasanya tetap ingin menyimpan versi cetaknya.

Dibingkai indah dengan warna kuning cerah perlambang kehangatan dan keceriaan. Persis serupa dengan sifat orang yang berfoto dengan saya ini. Ada sedikit kerusakan, mungkin karena lama tertindih foto lain, disiasatinya dengan meletakkan kain flanel berbentuk 'love'. Seolah ingin mengatakan, kado inilah yang paling mengena di hati.

Salam literasi

Jumat, 17 November 2017

Batal Ganti Nama

Dahulu waktu masih duduk di kelas IV SD, saya pernah mengajukan ganti nama ke ayah dan ibu. Alasannya, kata guru nama saya susah disebutkan. Saya minta diberi nama pengganti Novi atau Nova. Kebetulan lahir di bulan November, kan pas tuh namanya Novi.

Apalagi kelas kami saat itu kedatangan murid baru yang bernama Nova. Anaknya cantik, rambutnya panjang, ikal. Orangnya keindo-indoan. Mirip bule. Segera saja Nova menjadi idola anak kelas empat. Meski yang pegang rangking satu selalu saya, Nova si murid baru langsung masuk sepuluh besar. Sepertinya semua anak ingin jadi temannya. Berbekal kesan bahwa yang namanya Nova itu cantik, pintar dan banyak temannya, saya pun ingin memiliki nama demikian.

Ibu saya hanya tersenyum, ayah yang menjelaskan dengan panjang lebar. Bahwa nama itu adalah doa. Ada harapan kebaikan di dalamnya. Agar anak yang disemati nama indah itu mudah-mudahan dapat menyesuaikan sifatnya dengan arti nama. Ayah dan ibu berkewajiban menghadiahkan nama terbaik bagi anaknya.

Nama ayah saya Abdul Halim Ibrahim. Al Halim itu bagian dari asmaul husna yang berarti Maha Penyantun. Sama maknanya dengan Maha Pengasih, Maha Penyayang. Adapun Ibrahim adalah nama kakek saya.

Ibu saya bernama Nur Aisyah. Jadi Nur yang menjadi nama depan saya berasal dari nama beliau. Digabungkan dengan nama ayah saya, halim, hilmi, hilmiyah. Jadilah Nurhilmiyah. Cahaya kesantunan, kelembutan, kira-kira demikian. Mendengar penjelasan ayah saya, akhirnya saya bisa menerimanya.

William Shakespeare boleh mengatakan, "What's in a name? That's which we call a rose, by any other name would smell a sweet." Namun bagi saya pribadi, menyesuaikan sifat dengan nama, menjadi tantangan tersendiri. Jika saya terpaksa bersikap yang berseberangan dengan nama, seolah-olah arti nama itu menjadi self reminder. Yang jelas, di hari akhir kelak semua manusia akan diabsen nama-namanya. Bersyukurlah bila orangtua memberi nama yang bermakna baik.

Salam literasi

Kamis, 16 November 2017

Yakin Masih Minat Menerbitkan Buku?

Sumber foto: Google
Judul di atas sengaja dibuat bertanya. Mempersoalkan tujuan dari orang yang memiliki hobi menulis atau ingin disebut sebagai penulis. Meninjau ulang keyakinan mereka, benar-benarkah ingin menerbitkan buku. Bisa jadi ini juga sebuah pertanyaan retoris.

Di era perkembangan ICT sekarang ini, mahasiswa dimanjakan dengan berbagai tayangan visual. Tontonan televisi, layar monitor komputer/laptop, situs berbagi video seperti YouTube dan media sosial. Di ruang-ruang kuliah, mahasiswa juga menerima transformasi materi dari dosen, berupa tayangan slide power point.

Dosen berusaha membuat tampilan power point semenarik mungkin. Ippho Santosa dalam bukunya, 13 Wasiat Terlarang: Dahsyat dengan Otak Kanan mengatakan, tujuan visual yang sarat dengan warna, tak lain adalah untuk mengukuhkan pesan, mengencerkan pengingatan, dan membunuh kejenuhan audiens.

Lebih atraktif dari sekadar tampilan power point, terdapat gambar berwarna-warni di medsos. Bertebaran ribuan foto, video-video di YouTube dan Facebook. Semuanya bertujuan menyampaikan pesan. Sebagaimana yang jauh-jauh hari telah dinyatakan Konfusius, filosof Tiongkok, "sebuah gambar setara nilainya dengan seribu kata".

Meminjam istilah "disruption" atau disrupsi Prof Rhenald Kasali, wajar jika dipertanyakan, apakah buku fisik kedepannya tidak terkena efek domino dari disrupsi yang mulai melanda di berbagai bidang? Lihat saja toko offline vs toko online, taksi konvensional vs taksi online, ojek pangkalan vs ojol, buku fisik vs ebook. Bahkan ada ebook dibagikan gratis pula.

Catatan singkat ini tidak sedang menambah galau para penulis yang berharap bukunya segera ludes terjual. Tapi sekadar ikut memikirkan, di masa depan penulis mesti kreatif mengikuti perkembangan zaman. Tentunya harus ada kreativitas dan inovasi yang dimulai hari ini. Tidak efektif bila masih saja berkutat dengan cara-cara masa lalu.

Tidak bisa melulu menyalahkan rendahnya minat baca mahasiswa saat ini. Meski mereka tak kelihatan membaca buku pegangan, siapa tahu ternyata mereka belajar yang lain secara visual. Tentunya yang lebih 'eye catching' dibandingkan dengan kumpulan paragraf demi paragraf bernama buku. Puluhan ribu karakter yang bisa jadi lambat laun dianggap membosankan. Jadi bagaimana, yakin masih ingin menerbitkan buku?

Salam literasi




Selasa, 14 November 2017

Bersyukur di Setiap Detik

Suami saya mengambil cuti tepat di hari ultah saya. Terima kasih, suamiku.
Alhamdulillah bahagia dikasih kejutan ultah dari anak-anak. Terima kasih anak-anak tersayang.
Kata orang, age is just the number. Yah, mau 36 atau 63 sama saja. Yang berbeda adalah bagaimana kita mengisi usia sebaik-baiknya. Sejatinya saat bertambahnya angka usia di dunia, maka berkurang pula jatah hidup di alam fana

Batas umur telah ditentukan Sang Pencipta. Tak bisa bertambah ataupun berkurang. Yang bisa dimohonkan adalah diberi keberkahan usia. Memperoleh akhir hidup dengan husnul khatimah, sebaik-baik penutup.

Fira Nasta, mahasiswi FK UI pengarang novel Mencapai Takdir mendefinisikan usia adalah soal pencapaian hidup. Seberapa banyak angka usia bertambah, idealnya banyak juga yang mestinya telah dicapai. Amat disayangkan bila angka beranjak naik tapi belum meraih pencapaian apa pun.

Meski tak bisa dijadikan standar, karena tiap insan berputar di zona waktunya masing-masing. Alangkah tidak bijaknya jika mengkomparasikan pencapaian orang yang satu dengan yang lain. Apalagi bila ukurannya adalah sekadar prestasi duniawi.

Waktu berkontemplasi itu tak harus di hari lahir. Setiap hari di sujud dan dzikir panjang, kapan saja, leluasa mencurahkan hati pada-Nya. Sebagai seorang istri, merupakan pencapaian yang sangat disyukuri telah berada di atas bahtera rumah tangga yang kami arungi selama tiga belas tahun terakhir ini. Semoga saya dan suami ditakdirkan berjodoh tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

Sebagai seorang ibu, bersyukur di setiap detik masih kurang rasanya. Dikaruniai empat orang anak yang lahir normal, relatif mudah, sehat, tanpa kurang suatu apapun. Mereka hadir ke dunia sepasang demi sepasang. "Gilir kacang" kata orang Jawa. Kala ikhlas atas semua ketentuan-Nya, menjadi surprise yang luar biasa saat mendapat bonus-bonus kemudahan.

Sebagai seorang dosen, waktu dua belas tahun lebih masa kerja, harusnya telah mengantarkan saya mencapai gelar doktor. Namun tak segalanya mesti bersamaan dimiliki sendiri. Tidak semuanya bisa dijangkau saat ini. Harus ada prioritas, ada rembug yang melibatkan pasangan hidup.

Bahwa cita-cita tak lagi milik pribadi semata. Ada impian bersama. Yang dapat dilakukan adalah menjadi seproduktif mungkin melaksanakan tugas-tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kesemuanya tak akan mungkin dijalani tanpa kemudahan dan campur tangan dari Allah SWT. Alhamdulillah tak berkesudahan yang saya lantunkan. Tiap detik, di setiap saat.

Salam literasi

Sumber foto: dok pribadi





Sabtu, 11 November 2017

Karakter Orang Sukses: Memiliki Teman yang Inspiratif

Karakter ketujuh dari orang yang sukses adalah mempunyai teman yang inspiratif. Sudah akrab kita ketahui tentang hadits Rasulullah SAW mengenai dampak dari sebuah hubungan pertemanan. Jika berkawan dengan penjual minyak wangi, satu saat kita bisa membeli parfum darinya. Bisa juga dia akan menghadiahkannya pada kita. Atau paling tidak, kita akan tepercik bau harumnya.

Sebaliknya jika berteman dengan pandai besi, suatu saat kita akan terkena akibat bara apinya. Atau, jangankan mendapat bau yang harum, malah mendapat bau asapnya. Tentu saja hadits tersebut hanya mencontohkan. Tak perlu tersinggung bagi yang kebetulan mencari nafkah sebagai pandai besi.

Masih terkait dengan pentingnya berteman dengan yang memberikan pengaruh baik, kalau ingin mengetahui nilai seseorang, lihatlah dengan siapa ia berteman. Kalau baik teman-temannya, InsyaAllah dia akan baik juga. Kendati bisa saja terjadi perbedaan, secara umum selalu demikian.

Berteman dengan para penulis maka sedikit banyak akan memperoleh motivasi untuk mulai menulis. Para developer sukses yang properti jualannya laris manis, pasti rekan-rekannya juga developer yang gigih dan ulet di bidangnya. Advokat kondang, partnernya juga demikian. Bagi mahasiswa, akrab dengan orang yang IPK-nya cumlaude, lambat laun akan terpacu juga untuk lebih rajin belajar.

Sunan Bonang, gurunya Sunan Kalijaga, membuat lagu rakyat yang sangat populer sampai zaman sekarang. Tak hanya di kalangan pesantren tetapi juga di masyarakat umum. Tombo Ati, yang bermakna obat hati. Di dalam lima perkara yang menjadi obat hati itu, yang ketiga adalah anjuran untuk selalu berkumpul dengan orang saleh.

Sholeh atau shalih berasal dari bahasa Arab yang berarti terhindar dari keburukan. Lawannya adalah thalih, terputus dari kebaikan. Selalu bersama teman-teman yang saleh, yang baik-baik, insyaAllah akan mengondisikan kita untuk selalu berada dalam suasana kebaikan. Termotivasi terus menerus melakukan hal-hal yang positif.

Misalnya tengah dilanda kelelahan fisik, ingin menghasilkan sebuah tulisan, yang dapat dilakukan adalah berusaha tetap terhubung dengan teman-teman yang konsisten menulis. Membaca satu demi satu tulisan mereka seakan kita ikut masuk ke dalam kisah-kisah yang dibagikan.

Tak segan mereka memosting informasi dan pengetahuan baru yang berharga. Mereka menulis dan berbagi, setiap hari, setiap saat. Seperti quote-nya Tere Liye, "menulis itu berbagi." Bersliweran ilmu dan kisah inspirasi oleh teman-teman yang inspiratif. Energi yang seolah hampir habis, menjadi terisi kembali. Memiliki teman yang inspiratif adalah salah satu karakter orang-orang yang sukses. Baik, silakan dicek siapa sajakah teman-teman yang mengitari kita?

Salam literasi

Sumber foto: Google




Kamis, 09 November 2017

Karakter Orang Sukses: Ketepatan Menggunakan Waktu

Karakter keenam dari orang-orang sukses yang diadaptasi dari Canfield, Hansen, dan Hewitt dalam The Power of Focus adalah ketepatan menggunakan waktu. Lima karakter sebelumnya silakan dicek di blog. Telah banyak tulisan yang membahas tentang urgensi waktu.

Baik "al waqtu kas saif" kata Ali Bin Abi Thalib r.a. maupun "time is money", kata Benjamin Franklin, sama-sama menekankan arti pentingnya waktu. Tidak cermat menggunakan waktu maka siap-siap melewatkan hal yang berharga.

 Karakteristik waktu, irreversible (tidak pernah kembali), untransfersible (tidak bisa dipindahkan ke orang lain), unsubtitution (tidak tergantikan oleh apapun), unpayable (tidak dapat dibeli). Begitu sangat bernilainya waktu hingga satu jam yang kita biarkan berlalu maka ia tak akan pernah kembali. Ingin dipindahkan ke anak, misalnya, tidak akan bisa.

Diganti dengan satu jam keesokannya, siapa yang menjamin kita masih hidup besok. Ok, dibayar saja dengan uang jutaan, juga tak bisa. Kemarin, hari ini dan esok adalah dimensi waktu yang berbeda-beda. Meski hari demi hari berulang terus, namun sesungguhnya waktunya tidaklah sama.

Apa yang dilakukan di masa lalu sedikit banyak pasti bisa dirasakan efeknya di masa kini. Demikian juga yang sedang kita upayakan saat ini, akan berpengaruh pada pencapaian di masa depan. Hasan Al Banna mengatakan waktu adalah kehidupan. Membuang-buang waktu sama artinya dengan menyia-nyiakan kehidupan. Sementara Samuel Johnson, penulis Inggris mengemukakan, "future is purchased by present."

So, apa saja yang sedang kita perjuangkan  saat ini untuk kebaikan di masa depan? Sudah tepatkah alokasi waktu kita?

Salam literasi

(Bersambung ke karakter ketujuh)

Sumber foto: Google